Pilih yang Mana?

Januari 10-2011
Mengakui kesalahan adalah salah satu hal paling sulit bagi banyak orang. Kalimat ini disampaikan Rino seorang profesional yang sudah punya ‘jam terbang’ bidang logistik di sebuah perusahaan IT. Baru saja dia diajak bicara Nancy, atasan baru yang menggantikan Desti, atasan sebelumnya yang sudah sangat ‘nyambung’ dalam berbagai aspek personal dan interpersonal, serta organisasional dengan Rino di situ. Dia merasa bahwa Nancy terlalu cepat mengambil keputusan. Sebagai orang yang sudah lama di situ, Rino merasa lebih tahu dan menguasai tata cara tender yang sudah digeluti lebih dari lima tahun itu. Akibat yang ditimbulkan sangat berpengaruh bagi Rino. Mendadak semangat dan keceriaan seakan hilang. Canda tawa di antara rekan-rekan kantor itu seolah raib terbawa angin. Itu sangat dirasakan Santi, Edo, dan Dika. Merekalah rekan satu tim Rino di bidang logistik dan purchasing. Rekan sekantor Rino sudah berulang kali mengajak agar dia dapat menerima kenyataan. Meski demikian, sulit nampaknya Rino menerima masukan itu. Bahkan sudah dua hari ini Rino minta ijin pulang awal. Waktu di kantor banyak dihabiskan dengan gadget yang terus ada di tangannya.

Kualitas kinerja yang terpengaruh karakter seseorang merupakan fenomena yang lazim. Banyak orang mengalami kejadian seperti Rino itu. Bahkan beberapa kali dijumpai, orang dengan agresif melakukan perlawanan karena merasa tersinggung. Padahal jika ditilik dari pengalaman, ada banyak hal positif yang ada dalam diri Rino. Dari sudut kompetensi, Rino bahkan menjadi supervisor dari Santi, Edo, dan Dika. Terbayang bagaimana, mereka bertiga akan terwarnai cara pandang, dan perilaku atasannya. Mereka awalnya bisa mengerti dan memaklumi keadaan. Jika Rino masih saja bercokol dalam rasa sakit hati, dan tersinggung karena tindakan Nancy itu; efek buruk ini berpotensi akan menjangkiti ke tiga staf Rino itu. Berharap bahwa mereka bertiga bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang perlu dikritisi, adalah satu hal yang sangat kecil kemungkinannya. Lebih banyak orang yang menelan mentah-mentah apa yang dilihat dan didengar dari atasan mereka. Bawah sadar seseorang seringkali mendorong bertindak reaktif lebih daripada proaktif.
Di sinilah senantiasa perlu ‘mengawinkan’ antara karakter seseorang dengan kompetensi yang dikuasainya. Banyak orang pintar yang sikap, perilaku, dan tutur katanya sangat bertentangan dengan kompetensi yang dikuasainya. Bahkan ada sementara orang yang berada di posisi sebagai pejabat pemutus, tindakannya sangat banyak melukai orang di sekitarnya.

Yang sering kali terjadi adalah orang lebih dulu minta dimengerti daripada mau mengerti. Jika hal ini dibiarkan terus tumbuh, banyak sekali orang hidup dengan topeng-topeng nan indah. Padahal jika ternyata komunikasi itu hanya bagian dari drama satu babak, betapa banyak orang sekedar diperlakukan dengan kualitas di bawah hakikat manusia. Sejatinya manusia itu mahluk dengan akal budi yang mampu untuk diajak berdialog, diskusi, bahkan berdebat dengan menggunakan aturan main yang saling menumbuhkembangkan satu sama lain.

Nah, di balik sikap orang yang cenderung jadi diam dan menarik diri, ada apa sebenarnya? Atau orang yang berubah menjadi sangat aktif, menunjukkan kebaikan dalam kapasitas di luar kebiasaan, kenapa ya? Di atas kertas, fenomena seperti itu bermuara pada kebutuhan mendesak untuk fokus pada karakter! Dalam banyak organisasi, tolok ukur keberhasilan terletak pada kemampuan meraup keuntungan finansial. Benar! Pundi-pundi itu memang penting. Yang justru kadang terlewatkan adalah bagaimana rumus keuntungan yang berulang lagi, lagi, dan lagi. Konsisten! Berkesinambungan! Di sinilah letak keajaiban charcom! Pengolahan character dan competency (charcom), bisa dipastikan: hasil berkesinambungan! Nah, mau pilih yang mana? Fenomena jatuhnya Enron, menjadi ‘luka yang mengaga’, karena karakter jauh di belakang diabaikan dan ditinggalkan oleh sekelompok orang kompeten yang tampak pintar, namun ternyata… (ice_2010)