Dulu dan Sekarang

July 15-2011
Dua kata dalam bahasa Inggris ‘character’ dan ‘competency’ jika disingkat menjadi Charcom. Karakter berunsur sikap, kecerdasan emosi, semangat, dan kebenaran serta kejujuran orang itu. Kompetensi mewakili makna keterampilan, keahlian, pengalaman, dan kecanggihan seseorang karena penguasaan suatu ilmu atau keterampilan teknis; dan dapat menghasilkan output yang berkualitas.

Di dalam proses tumbuh kembang, setiap orang berkembang sisi kompetensi lebih dahulu. Hal ini tampak ketika bayi terampil tertawa, tengkurap, duduk, merangkak, hingga berjalan dan berlari. Di tahap ini seorang anak sehat mampu berkomunikasi dengan lingkungan sesuai tahapnya. Aspek kognitif yang berkaitan dengan akal budi seorang anak, tumbuh terlebih dulu. Karena itu anak ketika keluar rumah dan bergaul dengan orang lain diingatkan sopan santun, misalnya. Keterampilan mengelola emosi dalam situasi kecewa ketika permintaan ditolak adalah sebuah contoh sederhana bagaimana karakter tumbuh kemudian dibandingkan kompetensi. Ada banyak anak pintar, sulit dan bahkan gagal untuk dapat menerima kenyataan ketika permintaan ditolak. Pergaulan dengan teman untuk saling berbagi kerapkali diakhiri dengan tangisan karena mereka masih mendulukan dorongan egosentris daripada altruis yang mementingkan, mendahulukan, dan memperhitungkan orang lain.

Nah, jika proses tumbuh kembang ini terhambat hingga dewasa, muncullah pribadi-pribadi yang lebih mementingkan diri sendiri dan kelompok ketimbang anggota komunitas atau rakyat dalam suatu Negara. Bisa dibayangkan keadaan runyam mewarnai sana sini ketika orang yang memegang tampuk kepemimpinan gagal dalam mengembangkan karakter. Mereka dipilih menjadi pemimpin organisasi pertama-tama karena kecerdasan intelektual. Diandaikan semakin orang memiliki IQ tinggi, sekaligus dia berkarakter unggul. Ternyata kenyataan berbeda! Banyak dijumpai fenomena orang pintar yang gemar memutarbalik fakta. Kesempatan memegang kendali entah di dalam keluarga, organisasi atau Negara, pada intinya adalah sama. Penting disadari bahwa bagian awal yang sangat kritikal adalah kesadaran diri sebagai pribadi. Jika di dalam pribadi sudah beres, ketika mengembangkan komunikasi interpersonal dengan sesama rekan dan meluas dalam interaksi organisasional, orang ini konsisten dapat memberikan manfaat positif bagi siapa pun, karena secara individu dia sudah sadar bahwa karakter itu nomor satu. Sederhana memang sejatinya.

Mengedepankan charcom dimaksudkan agar setiap orang dewasa membangun kesadaran diri untuk mulai menengok karakter terlebih dahulu, karena karakter paling hakiki dalam hidup orang dewasa. Meski demikian, karakter saja tidaklah cukup. Senang memang bekerjasama dengan orang baik, penuh semangat dan positif. Kondisi ini bersyarat. Syarat terletak pada kompetensi. Setiap orang berkarakter wajib untuk menghasilkan mahakarya yang mendatangkan manfaat bagi diri dan banyak orang. Jika orang hanya memberikan alasan ketika diminta dan ditanya mana bukti? Sia-sialah orang itu masuk kelompok orang berkarakter. Karena itu charcom adalah ‘sebuah paket’ yang mengandaikan orang berkarakter membuahkan hasil kerja berkualitas yang disebut mahakarya. Dihasilkan pribadi-pribadi berkarakter yang mampu membuktikan bahwa mereka berkualitas karena hasil yang mengagumkan! Yang terpenting adalah bahwa manusia sejati tercipta karena hakekat kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Jika Tuhan berkehendak mencipta manusia, tentu ada rencana agung untuk mengangkat derajat manusia hina menjadi unggul karena berkarakter dan berkompetensi. Di sini sebenarnya panggilan manusia untuk sampai pada yang hakiki sudah bisa terjadi saat ada dalam kancah dunia sehari-hari. Kesadaran akan pentingnya charcom membawa orang berubah dari ‘kolektor topeng’, menjadi orang yang semakin menyatu dengan hakikat sejati bahwa manusia adalah Citra dari Sang Khalik. Sekaranglah waktu yang tepat untuk mengembangkan charcom di area kita paling nyata. Dulu dan sekarang, tetap dibutuhkan karakter dan kompetensi di negeri tercinta…(ice_2011)