Mau Dibawa Ke Mana?

Januari 10-2011
Dalam laut dapat diduga; dalam hati siapa tahu. Sepertinya peribahasa macam ini sudah jarang dipergunakan. Meski demikian relevansi isi dan makna yang terkandung, tanpa lekang dimakan zaman dan waktu. Kecerdasan otak bisa menghasilkan karya agung yang dipergunakan untuk memuliakan Sang Pencipta. Dengan demikian hakikat manusia di alam semesta ini pun kian bermakna lantaran sumbangsih yang dihasilkan dari kinerja yang unggul dan berdayaguna.

Adalah Alessandi gadis enerjik yang sudah dua minggu ini banyak mengurung diri di kamar sepulang kerja. Di kantor, dia banyak melamun dan tampak lesu. Jamal dan Rina, rekan satu bagian sudah melihat perubahan yang terjadi pada Alessandi itu beberapa minggu terakhir. Mereka takut buru-buru menilai karena setiap orang ‘kan punya privasi, tandas mereka.

Waktu makan siang, Citra dan Bertha gabung Rina, Jamal, dan Valen. Ketika balik ke ruangan, Rina iseng bertanya perihal Alessandi kepada Bertha. Jawaban Bertha, “Kamu tahu dari siapa?” adalah sebuah kesimpulan sederhana bahwa dugaan Rina benar bahwa Alessandi sedang ada masalah serius. Bahkan di sore hari itu, Rina terperangah ketika Citra berkata bahwa dia pernah diminta menemani Alessandi ke sebuah klinik yang dikenal tempat orang melakukan aborsi…

Malam itu Rina susah tidur. Bagaimana mungkin kisah yang dia baca di ‘Jakarta Undercover’, terjadi di dekatnya… Belum lama dia mendapat cerita ada buku baru sejenis dengan judul ‘Lorong Gelap yang Kutinggalkan’. Benarkah apa yang dimuat di situ? Seakan Rina ingin berteriak… Antara muak, jijik, dan iba campur aduk. Alessandi adalah sosok wanita yang karirnya cemerlang. Wajah ayu dan keterampilan dalam menjalin relasi bisnis sempat membuat Rina diam-diam menjadikannya model yang pantas untuk ditiru. Dinginnya malam itu membuat Rina seakan membeku dengan kejadian di tim marketing yang handal itu.

Hari itu, Alessandi absen. BB dan telepon selulernya gagal dihubungi. Pagi itu, status yang diupdate tertulis, “…Amarille…sampai jumpa di sorga baka, mama rindu padamu!”

Apa yang semula disampaikan dengan bisik-bisik, hari itu jadi terbuka! Tampak Jamal, Citra, Rina, dan Bertha sibuk mencaritahu di mana Alessandi berada. Dalam situasi yang penuh tanda tanya itu, mendadak telepon Rina berdering. Nama Valen muncul. Di ujung telepon ada suara Valen yang mengabarkan dia sedang berada di sebuah klinik bersama Alessandi dalam keadaan pingsan. Sebelum ke kantor dia sempatkan ke kos Alessandi. Didapatinya, dia tergolek lemas dengan pintu kamar terbuka. Buru-buru dia minta tolong Ibu kos untuk mengangkat Alessandi ke mobil Valen. Dalam perjalanan Alessandi pingsan. Untung lalulintas lancar sehingga Valen dapat sampai ke klinik dengan segera.

Suasana cemas meliputi rekan-rekan di kantor. Belum sempat mereka memutuskan sesuatu. Dering telepon dari Valen berbunyi lagi dan kini dengan suara tangis. Dengan suara terbata-bata terdengar suara, “Alessandi sudah pergi…” Rina shock dan limbung. Untung di dekatnya ada Citra yang segera menopang. Segera rombongan menuju ke klinik itu. Didapati mereka Alessandi sudah dipindahkan ke ruang jenasah. Suatu pukulan menghujam keras, bagi rekan-rekan yang selama ini mengagumi penampilan enerjik, karir cemerlang, dan wajah ayu, serta keterampilan dalam menjalin relasi bisnis. Semua yang hebat di luar itu kini berakhir dengan sangat cepat. Rupanya overdosis adalah penyebab utama kematian sosok yang banyak dikagumi dan menjadi model itu.

Satu per satu rekan-rekan di situ berkecamuk: mau dibawa ke mana hidup ini? Apakah kompetensi unggul dan cemerlang hanya hampa belaka dan berakhir tanpa makna? Duka lara membawa sirna sukacita sajakah akhir kehidupan kita? Di mana asa berada? (ice_2011)